-
Carilah wacana yang membedakan pemanfaatan bahasa
Indonesia pada tataran ilmiah, semi ilmiah, dan non ilmiah. Uploadlah dalam
tiga judul yang berbeda
a.
Ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan
fakta dan ditulis menurut metodolog penulisan yang baik dan benar. Adapun jenis
karangan ilmiah yaitu:
b.
Semi Ilmiah adalah sebuah penulisan yang menyajikan
fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi
tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering
di masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah
karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik,
anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.
Karakteristiknya : berada diantara ilmiah.
c.
Non Ilmiah (Fiksi) adalah Satu ciri yang pasti ada
dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu
dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur
seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb.
Wacana yang membedakan pemanfaatan bahwa Indonesia pada tataran Ilmiah, semi
Ilmiah, dan non-Ilmiah
Wacana ilmiah
Dalam tataran ilmiah, bahasa Indonesia sangat wajib diperlukan terutama
dalam penulisan karya ilmiah, sehingga bahasa yang baik dan benar sangat
diperlukan agar pemahaman bahasa dalam satu paragraph ke paragraph lainnya
dapat dimengerti.
Bahasa indonesia yang baik seharusnya sudah di tanamkan sejak dini, agar
anak-anak dapat berbahasa dengan baik dan sopan. Sekarang ini kebanyakan bahasa
telah mulai dipersalahgunakan oleh banyak orang, yang menggunakan bahasa
tersebut tidak pada tempatnya sehingga menimbulkan kerancuan dalam
berkomunikasi. Oleh karena itu, sebaiknya sejak dini kita harus membiasakan
diri menggunakan bahasa yang baik dan benar sehingga pemanfaatan bahasa dapat
di rasakan dengan baik oleh semua pihak.
Contoh wacana ilmiah
Perumusan dan penerapan metode elemen hingga dianggap terdiri dari delapan
langkah dasar. Langkah-langkah tersebut akan diuraikan dengan cara yang sangat
umum. Sifat distribusi dari akibat-akibat yang ditimbulkan dalam suatu benda
tergantung dari karakteristik istem gaya dan benda itu sendiri. Tujuan
selanjutnya akan dipakai istilah perpindahan atau deormasi sebagai pengganti
istilah akibat.
Diasumsikan adalah sulit untuk mencari distribusi u dengan memakai
metode-metode konvensional dan diputuskan untuk memakai meode elemen hingga
yang didasarkan pada konsep diskritisasi. Benda dibagi menjadi sejumlah elemen
kecil yang dinamakan elemen-elemen hingga. Akibat pembagian(subdivisi) semacam
ini adalh perpindahan turut didiskritisasi menjadi sub-sub zona yang
bersesuaian.sekarang elemen-elemen hasil pembegian diatas menjadi lebih mudah
untuk ditinjau, ibandingkan dengan peninjauan seluruh benda dan distribusi u
pada benda tersebut.
Pemeriksaan terhadap elemen-elemen, akan melibatkan uraian hubungan kekakuan
beban. Untuk mendapatkan hubungan semacam ini dipakai hokum dan prinsip yang
mengatur sifat benda.perhatian utma adalah mencari distribusi u. untuk
melakukan dibuat pemilihan pola, bentuk atau bagan distribusi u pada suatu
elemen. Contohnya ada satu hokum yang menyatakan supaya suatu benda yang
dibebani dapat diandalkan dan fingsional, maka dia tidak boleh paah dimanapun
dalam daerah kerjanya. Dengan kata lain, benda harus tetap continuous
Contoh penggunaan bahasa dalam tataran ilmiah
Makalah Ringkas
PERILAKU EMPAT KATA PENUNJUK ARAH DALAM BAHASA
BALI
I Dewa Putu Wijana
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada
1. Pendahuluan
Dari berbagai bahasa, bahasa Bali mungkin merupakan salah satu bahasa
yang memiliki kata penunjuk arah (mata angin) yang memiliki perilaku yang
unik
bila dilihat secara linguistis, khususnya dari aspek morfologis dan
sintaktis. Hanya
kata-kata penunjuk arah inilah yang bisa dikenai proses morfologis dan
sintaktis
tertentu, dan proses itu tidak pernah atau jarang sekali dapat dikenakan
pada katakata
yang lain. Tulisan singkat ini akan mendeskripsikan keunikan-keunikan itu,
dan berusaha mencari penjelasan mengapa keunikan itu bisa terjadi.
Dalam bahasa Bali, empat kata penunjuk arah yang utama diungkapkan
dengan satuan lingual kangin timur , kauh barat , kaja selatan , dan kelod
utara . Secara etimologis kata kelod berasal dari ke laut lewat proses
persandian
(au>O) dan korespondensi /t/ dan /d/ dan pengubahan fungsi preposisi ke
menjadi
suku awal . Hilangnya sifat kontras antara /t/ dan /d/dalam hal ini disebut
dengan
netralisasi (Martinet, 1987, 85; Verhaar, 1996, 85). Oleh karenanya, tidak
mengherankan bila orang orang Bali menyebut tempat yang mengarah atau
menuju ke laut dengan kelod walaupun secara geografis tempat-tempat itu
berada
di barat, selatan, atau timur. Orang Bali sering mengatakan Engken pasihe
ento
kelode Mana lautnya di sanalah kelod . Kata lod dalam hal ini agaknya secara
diakronis berkorespondensi dengan kata lor dalam bahasa Jawa yang bermakna
utara hanya saja kemudian terjadi perubahan dalam bahasa Bali menjadi tempat
yang menuju ke laut . Dengan kontrusksi itu kata-kata penunjuk arah
merupakan
kata-kata yang sangat tinggi frekuensi pemakaiannya karena begitu dekat
hubungannya dengan kehidupan orang Bali. Misalnya dalam dikotomi budaya
Bali kaja adalah gunung sebagai pusat kemakmuran dan kesuburan. Kelod adalah
tempat yang menuju laut. Kangin adalah tempat matahari terbit, dan kauh
adalah
tempat matahari tenggelam. Dekatnya hubungan arah dan kehidupan manusia
inilah yang menyebabkan kata-kata ini memiliki perlakuan linguistik tertentu
di
dalam pemakiannya. Hal ini agaknya belum pernah mendapatkan perhatian dari
ahli-ahli bahasa yang bergelut dengan bahasa Bali. Dalam tulisan ini
ditemukan
dua buah proses linguistik yang khas dialami oleh kata-kata penunjuk arah
ini,
yakni kontraksi preposisi di dan pembubuhan afiks be- yang secara
berturut-turut
diuraikan dalam 2 dan 3.
2. Kontraksi preposisi di
Perubahan bunyi yang terjadi di dalam bahasa tidak hanya terjadi dalam
tataran
Leksikon, tetapi mungkin pula ditemukan dalam tataran yang lebih tinggi,
seperti
frasa dan kalimat (Pastika, 2004a, 1; 2004b, 52). Kontraksi di yang melekat
pada
kata-kata penunjuk arah yang akan dibicarakan berikut ini pada hakikatnya
merupakan perubahan bunyi pada tataran frase.
Kontraksi adalah proses peringkasan leksem dasar atau gabungan leksem,
seperti tidak menjadi tak, tidak ada menjadi tiada, dsb. (Kridalaksana 1993,
121).
Definisi ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh Crystal (1978,
89)
yang mengemukakan bahwa kontraksi adalah:
The process or result of phonologically reducing a linguistic form so that
it comes to be attached to an adjacent linguistic form or fusing a
sequence of forms so that they appear as a single form.
Dengan terjadinya kontraksi secara diakronis maka semua kata-kata penunjuk
arah angin dalam bahasa Bali berawal dengan bunyi /k/, yakni kangin, kauh,
kaja,
dan kelod. Kata kaja, kelod, kangin, dan kauh adalah nomina yang bila
digunakan
untuk menunjuk tempat tertentu harus mengambil bentuk yang lain, yakni
dangin,
dauh, daja, dan delod. Bila tidak maka kata kangin hanya dapat digunakan
sebagai nomina biasa, seperti dalam ungkapan Tusing nawang kaja kelod tidak
tahu selatan dan utara atau Tusing nawang kangin kauh Tidak tahu timur dan
barat . Adapun kalau arah itu menunjuk tempat akan digunakan seperti berikut
ini:
(1)Dajan rurung-e ada anak ng-adep kembungan
Di selatan jalan-nya kl ada orang jual trans balon
Di selatan jalan ada orang yang menjual balon
(2) I Belog ulung di delod pangkung-e
Art. Belog ND jatuh di utara jurang kl
I Belog jatuh di sebelah utara jurang
(3) Dauh tukade tusing ada yeh.
Utara sungai tidak ada air
Di utara sungai tidak ada air
(4) Dangin tiange umah-ne.
Timur saya kl rumah pos.
Di sebelah timur rumah saya rumahnya
3. Prefiksasi be-
Dalam buku-buku tata bahasa bahasa Bali agaknya jarang sekali atau mungkin
tidak ada yang membicarakan afisk be-. Dengan kata lain afiks-afiks ini
dianggap
tidak ada dalam bahasa Bali. Akan tetapi, secara sinkronis jelas sekali
bahwa di
dalam bahasa Bali ada kata-kata bedauh jauh di barat , bedelod jauh di utara
,
bedaja jauh di selatan , bedangin jauh di timur . Dengan demikian, dicurigai
ada
proses morfologis seperti di bawah ini:
be- + dauh > bedauh
be- + delod > bedelod
be- + daja > bedaja
be- + dangin > bedangin
Adapun pemakaiannya dapat dilihat dalam (14), (15), (16), dan (17) di bawah
ini:
(5) + Dija ada balih-balihan?
Di mana KT ada tontonan
Di mana ada tontonan?
- Ditu bedaja.
Di sana di selatan
Di sana di selatan
(6) Bedangin tusing ada apa-apa.
di timur tidak Neg ada apa-apa
Di timur tidak ada apa-apa
(7) Ada apa bedauh?
ada apa KT di barat
Ada apa di barat?
(8) Umah-ne bedelod, tusing dini.
Rumah-nya pos di utara, bukan Neg. di sini
Rumahnya di utara, bukan di sini
Afiks be- yang melekat pada keempat kata penunjuk arah itu bermakna
gramatikal tempat yang jauh dari pembicara.Bila orang Bali ingin menunjuk
tempat yang dipandang tidak terlalu jauh, maka ia akan menggunakan klitika
ne.
Kata-kata penunjuk arah yang berklitika ne ini dapat didahului dengan kata
dini
di sini .
(9) + Lakar kija, Beli?
mau ke mana KT, Kakak
Mau pergi ke mana, kakak?
- Dini, dauh-ne jep.
di sini di barat Kl sebentar
Di sini di barat sebenta
4. Catatan Penutup
Proses linguistik apapun jenisnya yang terdapat di dalam bahasa bahasa
ternyata tidak terjadi pada sembarang bentuk kebahasaan, dan dapat dikenakan
secara analogis pada bentuk-bentuk serupa yang lain. Untuk ini diperlukan
syarat
yang lain, yakni bentuk itu lazimnya memiliki ciri tertentu dan mempunyai
frekuensi pemakaian yang sangat tinggi, bahkan mungkin secara kultural
begitu
dekat atau penting hubungannya dengan kehidupan masyarakatnya.
Untuk mencapai penjelasan yang memuaskan analisis sinkronis pada saat-saat
tertentu membutuhkan penjelasan yang bersifat diakronis. Hal ini agaknya
berkaitan dengan prinsip uniformasi yang dikemukakan oleh Bell (1976,
187-191;
periksa juga Wardaugh, 1988, 18) yang mengemukakan bahwa: The linguistic
process which we observe to be taking place around us are the same as those
which have operated in the past, so that there can be no clean break between
synchronic matters and diachronic ones. Dalam hubungannya dengan kontraksi
di
dalam bahasa Bali semakin jelas bahwa batas-batas tataran linguistik,
leksikon,
fonologi, morfologi, dan sintaksis semakin tidak jelas (kabur).
Di dalam bahasa terdapat morfem-morfem yang bergabung dengan satu
satuan tertentu saja yang disebut dengan morfem unik (Ramlan, 1987, 82), ada
morfem yang dapat bergabung dengan berbagai jenis morfem, dan dalam
kaitannya dengan afiks be- dalam bahasa Bali, morfem ini hanya bergabung
dengan morfem dasar penunjuk arah yang bila konsep keunikan ini diperluas,
yakni dapat pula diterapkan untuk morfem terikat, maka be- dalam bahasa bali
disebut sebagai morfem semiunik.
b. Contoh bahasa dalam tataran semi ilmiah
KabarIndonesia – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melaui dinas
pekerjaan umumnya (DPU) terus mempermulus jalan-jalan trans propinsi yang ada
dikabupaten Tanah Bumbu itu. Pekerjaan yang dilaksanakan oleh PT. Adhi Karya
tersebut, sangat terasa manfaatnya oleh masyarakat.
“Khususnya para pengguna jalan trans provinsi, baik yang dari Banjarmasin
menuju Batulicin dan Kotabaru,” kata Fadli MHM, yang kesaharian sebagai
pengemudi angkutan penumpang Banjarmasin – Batulicin PP.
“Dulu, sebelum jalan ini diperbaiki, dari Batulicin menuju Banjarmasin bisa
memakan waktu hingga 7 jam perjalanan. Tetapi sekarang bisa ditempuh cukup
dengan 5 jam saja,” ujar Fadli.
c. Contoh penggunaan bahasa dalam tataran non-ilmiah
AKU
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
http://rockyeah.wordpress.com/2011/09/28/membedakan-pemanfaatan-bahwa-indonesia-pada-tataran-ilmiah-semi-ilmiah-dan-non-ilmiah/